Belajar Menghargai Alam

Rabu, 30 November 2011
H I D U P Selaras dengan alam dan menghargai segala isi yang terkandung didalamnya sudah menjadi keharusan yang tak terelakan. Sebab jika manusia sebagai mahluk berakal tidak lagi menghargai alam, atau bahkan cenderung melakukan eksplorasi berlebihan yang berbuntut pada kerusakan alam, maka jangan berharap alam akan bersahabat dengan manusia.


Musibah atau bencana alam yang akhir- akhir ini kerap melanda bumi pertiwi, tak lepas dari murka alam akibat perbuatan tangan- tangan manusia serakah. Sebab manusia tak lagi memandang keindahan alam sebagai anugerah yang kelestariannya perlu dijaga.

Pandangan segelintir orang yang menyalah-arti-kan petuah “Tuhan Menciptakan Alam Beserta Isinya Sebagai Bekal Kehidupan” ,yang berarti alam boleh dieksplorasi berlebihan, harus segera dihentikan. Berbagai dalih sebagai pembenar atas syahwat kemewahan seperti itu, tak jarang mendatangkan bencana, seperti tanah lonsor, banjir bandang, kebakaran hutan dan lainnya, adalah akibat yang ditimbulkan oleh tangan- tangan manusia tamak.

Negara dalam hal ini turut berperan serta atas berbagai kerusakan alam ditanah air. Atas nama rakyat, para pengelola negara memberikan ijin eksplorasi alam bumi pertiwi kepada pihak asing, seperti Newmont di Nusa Tenggara Barat, Timah di Bangka, Tambang Antam di Banten, dan berbagai tambang raksasa lainnya di Indonesia Timur. Para pengelola negara sebagai pihak yang paling diuntungkan dalam pengerusakan alam, tak pernah sadar betapa kerusakan yang ditimbulkan oleh kegiatan eksplorasi berlebihan tersebut, dapat berakibat fatal bagi peradaban masyarakat sekitar pada masa mendatang.

Dengan dalih perbaikan ekonomi, dan lagi- lagi rakyat diatasnamakan, sejatinya hanya segelintir orang yang menikmati kemewahan atas eksplorasi alam tersebut. Masyarakat sekitar yang dalam jangka panjang akan merasakan dampak negatif dari kegiatan pengerusakan alam, paling banter hanya diposisikan sebagai buruh, atau setinggi- tingginya sebagai mandor. Dalam hal ini, lagi- lagi Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai alasan.

Atas ijin negara, ditambah keserakahan segelintir penguasa, dengan leluasa kekayaan alam bumi pertiwi dibawa keluar dari negeri ini. Warga negara yang sebagian besar masih dibelit kemiskinan, hanya bisa menonton betapa kekayaan alamnya dirampok atas nama rakyat. “Sungguh suatu kelaliman yang teramat nyata”.

Belum terlambat untuk kita semua berada pada posisi sebagai manusia yang bertobat, dan kembali belajar menghargai alam, yang sejatinya telah menyediakan sumber penghidupan bagi manusia. Paling tidak negara dapat melakukan evaluasi kembali atas ijin- ijin yang telah diberikan kepada perusahaan- perusahaan tambang raksasa milik asing, agar kerusakan alam tidak semakin parah dari hari kehari.***

0 komentar:

Poskan Komentar

my hamster